Kasus Ijazah Palsu Jokowi Memanas lagi, Ahli Forensik asal Siantar ini Getol Membongkarnya

Sebarkan:

Rismon Hasiholan Sianipar, ahli forensik digital alumni UGM yang yakin kalau Jokowi menggunakan ijazah palsu
Kasus ijazah palsu mantan Presiden RI, Joko Widodo yang mengaku alumni S1 UGM sebenarnya sudah berkali-kali diperdebatkan public sejak lama. Namun terus ditutupi oleh berbagai pihak. Dan sekarang, kasus itu memanas lagi setelah Jokowi tidak berkuasa. Fakta-fakta kepalsuan ijazah itu mulai diungkap ke public.

Adalah  Rismon Hasiholan Sianipar yang begitu gigih membongkar fakta-fakta kepalsuan itu. Rismon meyakini, jazah S1 Kehutanan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dari UGM adalah palsu setelah ia mengamati keanehan pada dokumen itu.

Salah satunya soal penggunaan jenis font (Times New Roman). Selain itu menurutnya nomor seri yang dianggap tidak sesuai dengan teknologi era 1985.

"Ijazah S1 Kehutanan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diterbitkan UGM pada 1985 adalah palsu," ujar Rismon dalam unggahannya. Untuk meyakini tuduhannya itu, Risman siap bersaksi di pengadilan. Ia mengaku akan membongkar  fakta-fakta ilmiah soal ijazah  palsu itu.

Rismon Sianipar bukanlah sosok sembarangan dalam dunia forensic digital. Kemampuannya mengidentifikasi dokumen palsu dilandasi ilmunya yang luas di bidang itu.

Rismon juga seorang alumni dari Universitas Gajah Mada (UGM). Berkat keahliannya di bidang Kajian ilmiah dokumen digital, Rismon kerap dihadirkan di pengadilan  sebagai saksi ahli untuk menilai keaslian data.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang forensic digital, Rismon begitu yakin kalau ijazah S1 Jokowi benar-benar palsu.

" Saya siap bertaruh apapun, saya tegaskan bahwa 100 miliar persen ijazah itu palsu," katanya seperti dikutip dari video berjudul "Ijazah Palsu Joko Widodo Berdasarkan Analiaa Jenis Font dan Operating System", Selasa (25/3/2025).

Rismon meyakini bahwa ijazah Jokowi palsu berdasarkan dua aspek, yakni font pada ijazah itu dan nomor seri pada ijazah yang hanya berupa foto copy itu, yang menurut dia janggal.

Menurutnya, fontface atau jenis font yang digunakan pada ijazah Jokowi, yang pada video itu ditampilkan hanya dalam bentuk fotocopy sebagaimana yang beredar selama ini, dan terdapat watermark "Republika" pada copy ijazah itu yang menandakan bahwa copy ijazah Jokowi itu merupakan sampel yang dipublikasikan republika.co.id, menggunakan jenis huruf Times New Romans.

Menurut dia, jenis huruf itu tidak mungkin sudah ada pada 5 November 1985 saat ijazah itu diterbitkan UGM.

"Karena Window OS versi 1.01 dirilis 20 November 1985 atau 15 hari setelah ijazah Jokowi itu diterbitkan UGM. Sedang Windows versi 3.1 (di mana font Times New Romans difungsikan) dirilis pada tanggal 6 April 1992. Konfirm ijazah ini palsu," ungkapnya.

Rismon juga membandingkan copy ijazah Jokowi dengan ijazah seorang alumni UGM yang lain yang bernama Bambang Nurcahyo Prastowo, di mana sementara ijazah Jokowi menggunakan jenis font Times New Romans, sementara ijazah Bambang, menurut Rismon, merupakan font standar dari komputer yang masih menggunakan DOS (Disk Operating System).

"Kalau font pada ijazah Jokowi ini karena menggunakan jenis font Times New Romans, ini menggunakan Windows," katanya. Ia pun meminta agar Jokowi mengakui kalau ijazahnya memang palsu.

"Ngaku sajalah Pak Joko Widodo. Anda mungkin saja benar kuliah di kehutanan (UGM). Bisa saja kan? Karena kita tidak bisa menutup kemungkinan, tapi mungkin ijazah Anda hilang, kebanjiran atau apa, tapi bukan ini ijazah aslinya, ini pasti palsu. 100 miliar persen palsu," katanya.

Rismon juga menyoroti skripsi Jokowi yang menurut dia janggal. Skripsi itu berjudul "Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kotamadya Surakarta". Sebab, kata dia, huruf yang digunakan untuk judul skripsi itu pun menggunakan jenis Times New Romans.

"Ini pasti gak benar. Sudah pasti palsu. Pasti diproduksi seteleh Times New Romans difungsikan tahun 1992 di Windows. UGM jujur saja, ada apa sih sebenarnya, kenapa ngotot membela Jokowi? Kebenaran itu pahit, tapi bisa jadi pembelajaran," ujarnya.

Soal nomor seri pada ijazah Jokowi, Rismo mengatakan, nomor seri di ijazah ganjil karena tak ada klaster. Ia menunjukkan, pada ijazah Jokowi hanya ada angka 1120.

"Ini nggak ada klasternya, sehingga nggak jelas ini dari fakultas apa dan lulusan (angkatan) keberapa," jelasnya.

Ia menunjukkan ijazah alumni UGM yang dijadikan sampel yang bertuliskan No 766/2869PA/1985. Huruf "PA" pada nomor seri ijazah ini katanya, mungkin dari fakultas Pengetahuan Alam. Sementara ijazahnya sendiri memiliki nomor seri 28530/HYN-WBS/98/TE-ST/67-1159 .

Ijazah Jokowi yang dicurigai palsu
"TE pada nomor seri itu menunjukkan kalau saya lulusan Teknik Elektro," jelasnya.

Seperti diketahui, copy ijazah Jokowi itu selama ini memang dicurigai palsu sehingga pernah dua kali digugat ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, akan tetapi gugatan pertama dicabut karena sang penggugat, yakni Bambang Tri, ditangkap dan dipenjara 6 tahun oleh PN Solo karena dinilai terbukti menyebarkan kabar bohong tentang ijazah Jokowi

Gugatan kedua kandas, karena PN Jakpus pada putusan sela menyatakan tidak berwenang mengadili gugatan ini.

Gugatan dengan kuasa hukum dari Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) itu didasarkan pada data yang dimiliki Bambang Tri bahwa ijazah Jokowi palsu, dan juga berdasarkan foto wajah pada ijazah itu yang secara fisik berbeda dengan wajah Jokowi.

Terkait dengan kandasnya gugatan di PN.Jakpus, Rismon mengatakan kalau kemungkinan hakim tidak terlalu paham soal manipulasi digital, dan hakim pun punya kecenderungan percaya kepada polisi yang menangani perkara pada tingkat penyelidikan dan penyidikan, sebelum perkara dilimpahkan ke Kejaksaan dan kemudian ke pengadilan.

"Hakim tak paham, standar berpikir hakim ya gitu, hanya percaya kepada polisi. Ya, itulah hancur negara ini. Para hakim rendah dalam pemahaman digital, apalagi digital manipulation," katanya.

Siapa Rismon Hasiholan Sianipar?

Sosok Rismon Hasiholan Sianipar jelas bukan orang sembarangan, Kemampuannya di bidang digital forensic sudah tidak terbantahkan lagi. Ia mempelajari bidang itu tidak hanya di UGM, tapi juga hingga ke luar negeri.

Rismon Hasiholan Sianipar lahir di Kota Pematangsiantar, Sumut, pada tanggal 25 April 1977. Ia  merupakan salah satu saksi ahli yang pernah dihadirkan oleh kuasa hukum Jessica Wongso pada tahun 2016 silam.  Ia kala itu diminta sebagai ahli digital forensik dalam kasus Jessica Wongso, untuk menjelaskan CCTV di Cafe Olivier.

Sejak masih di sekolah dasar hingga sekolah menengah, Rismon dikenal sebagai pelajar yang cerdas. Ia merupakan  lulusan dari SMAN 3 Pematang Siantar. Pada tahun 1994 ia merantau ke DIY Yogyakarta untuk melanjutkan Pendidikan di Fakultas Teknik UGM.

Pada tahun 1998 Rismon menyelesaikan pendidikan S1 UGM di jurusan Teknik Elektro, salah satu jurusan yang sangat favorit di kampus itu. Selanjutnya pada 2021 ia berhasil menyelesaikan program magister di kampus yang sama.

Tak puas hanya belajar di dalam negeri, Rismon pun melanjutkan pendidikannya setelah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang di Universitas Yamaguchi, dan mendapatkan gelar Master of Engineering (M.Eng) dan Doctor of Engineering (Dr.Eng) .

Sedangkan untuk profesi yang ia geluti saat ini Rismon sudah mengasahnya melalui penelitian penelitian yang ia lakukan selama berkuliah baik di UGM maupun di Jepang.

Saat berkuliah di UGM Rismon mengambil Konsentrasi penelitian di bidang sinyal-sinyal tak-stasioner dengan menganalisa energinya menggunakan peta waktu-frekuensi.

Sedangkan saat berkuliah di Jepang Rismon berkontribusi di berbagai penelitian terkait analisis kripto yang digunakan oleh forensik digital. Ia pun berprofesi sebagai ahli forensik digital, akademisi, dosen, dan penulis.

Jokowi membantah mendapatkan ijazah palsu dari UGM
UGM Lindungi Jokowi

Begitu kerasnya Rismon berbicara soal ijazah palsu Jokowi, tapi kampus UGM terus berusaha melindunginya. Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta menyayangkan atas tuduhan yang disampaikan Rismon tersebut.

Menurutnya,  tudingan bahwa ijazah dan skripsi Jokowi palsu merupakan tuduhan tidak mendasar.  Sigit  juga membantah tudingan bahwa font Times New Roman belum digunakan pada tahun 1985 yang menjadi tahun terbitnya skripsi Jokowi. Ia  mengatakan bahwa  font tersebut sudah sering digunakan mahasiswa di tahun 1985 seperti di sampul maupun lembar pengesahan skripsi.

Anehnya, UGM sama sekali tidak berani menunjukkan data ijazah tersebut. Mereka hanya sebatas membantah tuduhan palsu tapi tidak menjelaskan data-data kepalsuan yang merupakan temuan Rismon.

Sikap UGM ini yang mengundang keheranan banyak pihak. Terkesan UGM terus berusaha melindungi Jokowi, padahal data-data kepalsuan itu sulit untuk dibantah.

Sementara Jokowi sendiri hanya cengengesan ketika ditanya soal ijazah palsunya itu. Ia mengatakan isu itu adalah isu lama yang terus diulang-ulang sampai sekarang.

“Ijazah saya asli. Kabar soal ijazah palsu itu adalah fitnah yang terus diulang,” kata Jokowi kepada wartawan yang menemuinya di Solo. ***

 

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini